Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid

Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid - Hallo sahabat Berita Wawancara, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Artikel Kabar, Artikel Berita, Artikel Berita Wawan cara, Artikel Fenomena, Artikel Indonesia, Artikel Islam, Artikel Islami, Artikel Muslim, Artikel Politik, Artikel Ragam, Artikel Unik, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid
link : Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid

Baca juga


Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid



"Apa artinya angka ini Dok?" tanya saya pada seorang pria paruh baya yang duduk dengan tenang di hadapan saya. "Begini Bu, dari hasil laborat ini namanya Hypertiroid Subklinis. Apakah ibu sudah punya putra?" Spontan saya menggangguk. "Okey berarti aman, Ibu saya kasih resep untuk menormalkan kadar tiroid dulu ya, kemudian jika sudah normal lebih baik diambil saja" lanjut dokter itu. "Nggih dokter" dengan nada masqul, mendengar kata "diambil" yang berarti dioperasi. Dibedah. Kulit diiris. Seketika ngilu seluruh badan.

***

Sudah tak terhitung berapa kali saya menjejakkan kaki ke ibukota. Namun, belum sekalipun saya ke Monas. Eh, udah dink. Ketika Dharma wisata jaman SMP, sewaktu saya masih imut dan belum mengerti rasanya putus cinta. Weeks.

Tapi jaman dulu belum ada instagram dimana kita bisa pamer-pamer segala konten termasuk swafoto yang bikin netizen mual. Eheem.

So, saat saya ada kerjaan liputan event KAI dengan stasiun terakhir di Gambir, saya sudah berencana pengen foto-foto di sekitar Monumen Nasional. 'Kan dari stasiun Gambir ke Monas tinggal jalan kaki wong letaknya sebelahan, yah meski jalan kakinya tetapi harus ribuan langkah. Stasiun Gambir kan nggak seimut stasiun Lempuyangan dimana keluar dari area cuma butuh puluhan langkah :))

Ngopi Bareng KAI

Saya bersama seorang gadis, duh saya lupa namanya. Dia barista yang bertugas membagikan kopi di kereta selama perjalanan dari Stasiun Tugu sampai Stasiun Gambir. Saya ajak dia ke Monas dan dia mau, lha daripada tak tinggal sendiri di stasiun, hehehe.

Singkat cerita kami sampai di Monas, dengan pintu gerbang tertutup rapat. Digembok. Saya celingukan lihat kanan kiri. Nggak ada satpam yang bisa ditanyain. Saya mengedarkan pandangan sejauh mungkin, ternyata Monas sepi. Tak terlihat orang-orang bersliweran di dalam kompleks Monas. Lalu saya sadar jika setiap hari Senin kayaknya Monas tutup. Seperti beberapa museum atau destinasi wisata lain yang tutup saat Senin untuk proses pembersihan, kurasi dan lain-lain.

Baca juga : Tentang aku, Dilan dan Ngopi Bareng KAI  (Ngopi Bareng KAI I)

Gagal deh selfi sama si Monas. :(

Lalu kami duduk di dekat pagar besi. Menyaksikan jalanan ibukota yang makin ruwet. Hingga tangan saya iseng-iseng memegangi leher. Meraba-raba, hingga saya menemukan keanehan di leher sebelah kanan. Sepintas tidak terlihat ada yang aneh dengan leher saya.Tapi jika diraba ada semacam benjolan kecil, yang seperti menempel di tenggorokan. Saya bandingkan dengan yang sebelah kiri dan memang berbeda.

Apa ini Tuhan? Seketika saya makdeg. Saya yang merasa baik-baik saja. Tak pernah merasa sakit dan tak ada keluhan. Tapi saya tak bisa menyangkal, ada sesuatu yang tidak semestinya ada di leher saya.  Saya berusaha mengenyahkan pikiran buruk.

Pas perjalanan pulang dari Gambir ke Jogja saya berusaha sesibuk mungkin dengan menginterview para penumpang kereta Taksaka malam yang mencicip kopi nusantara. Dan berharap melupakan benjolan di leher kanan. Tapi, gagal.

***

Mengenal Tirtoid, Hipertiroid dan Hipotiroid


Teman-teman di kantor menyarankan saya segera periksa ke dokter biar dicek secara lengkap, jadi tahu benjolan itu apa. Seorang teman kantor , Bu P bercerita jika dia dulu juga terkena gondok, atau nodul tiroid. Baru sebesar bakso, dan sudah dioperasi dulu sewaktu dia masih gadis.

Saya jadi ingat jika Bu PY tak pernah mau makan kobis karena dia pernah punya gondok dan dilarang oleh dokter untuk mengkonsumsi kobis. Seketika saya ingat jika saya sangat suka lalapan kobis, jika makan sate kambing atau tongseng saya memang tidak memakai nasi tetapi saya bisa makan kobis satu piring penuh. Bahkan jatah teman-teman saya saya makan kobisnya.

Saya jadi bertanya-tanya apakah gondok yang muncul ini ada hubungannnya dengan mengkonsumsi kobis? Tapi kubis itu enak, krenyes-krenyes. :))



Saya  menggunakan kartu ASKES atau sekarang disebut BPJS, karena memang sudah merger antara Asuransi kesehatan untuk PNS  dengan JKN. Memeriksakan ke faskes 1 yaitu dokter keluarga, setelah diraba leher saya, disuruh menelan dan benjolan tidak bergerak, maka fix ada gondok atau nodul tiroid di leher saya. Dokter menyarankan saya ke dokter penyakit dalam.

Ini adalah kali pertama saya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Saya merasa selalu sehat, pernah opname dua kali itu juga karena penyakit bawaan bayi yaitu Hyperemesis. Muntah yang berlebihan semasa hamil hingga kekurangan cairan dan harus diopname. Selain  itu saya nggak pernah merasa sakit, lebih sering mengeluh karena nggak punya duit sih. Hahahaha.

Dokter spesialis penyakit dalam memeriksa leher saya. Diraba dan disuruh menelan. Jika benjolan tidak ikut naik turun, itu adalah nodul tiroid atau gondok. Kelenjar tiroid berbentuk kupu-kupu ada di sebelah kanan dan kiri. Gondok saya yang membesar di sebelah kanan, sedang yang kiri clean.

Kelenjar tiroid terletak di bagian depan leher dan berperan sebagai penghasil hormon tiroid. Hormon ini berfungsi untuk mengendalikan proses metabolisme, seperti mengubah makanan menjadi energi, mengatur suhu tubuh, dan mengatur denyut jantung.

Dokter menyarankan untuk di USG terlebih dahulu, kemudian saya di USG , kebetulan di sore itu juga bisa. Hanya menunggu dokter datang. Tempat saya periksa di RS Panti Rini yang tergabung dalam Yayasan Panti Rini, rumah sakit terdekat dari rumah karena tinggal menyebrang jalan Jogja - Solo.

Dari hasil USG terlihat ada beberapa benjolan, tidak cuma satu, ukurannya kecil-kecil  berdiameter sekitar 1 cm dan 1,5 cm. Dari hasil USG dokter menyarankan saya untuk cek darah untuk mengetahui kadar TSH dan TF4. Dari hasil pemriksaan darah nanti baru bisa diketahui penyebab benjolan atau gondok itu. Apakah karena hipertiroid atau hipotiroid.

Okay, mari sedikit belajar tentang Hypertiroid ya gaes...


Kerja dari kelenjar tiroid  dipengaruhi oleh kelenjar di otak yang dinamakan kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis akan menghasilkan hormon yang dinamakan TSH dalam mengatur kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid.
Ketika kadar hormon tiroid dalam tubuh terlalu tinggi, maka proses metabolisme akan berlangsung semakin cepat dan memicu berbagai gejala. Penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah memburuknya gejala hyperthyroidism atau hipertiroid yang muncul.
Tiroid berperan dalam pengaturan beberapa fungsi penting dalam tubuh seperti denyut jantung, sistem saraf pusat, berat badan, kekuatan otot, suhu tubuh, siklus menstruasi, sampai kadar kolesterol dalam darah. Jika terjadi gangguan pada tiroid, tidak hanya akan mengganggu fungsi-fungsi tersebut. Tapi, ternyata juga dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang.

Ternyata tak selalu penderita tiroid mengalami nodul atau terdapat benjolan, banyak juga yang keluhannya seperti tangan tremor, bahkan adacyang sampai tubuhnya bergetar dan dia selalu mengkonsumsi obat untuk menormalkan kadar Tsh.

Lalu keluhan apa yang saya rasakan?

Selama ini saya merasa fine-fine saja. Menyelesaikan kerjaan di rumah, mengurus anak suami, kerja di kantor, bahkan liputan event atau acara blogger hingga ke luar kota juga no problem. Saya kembali merenung. Membaca berbagai jurnal dan artikel tentang Hipertiroid dan mulai mengenali tubuh saya. Ada problem apa di tubuh saya :

1. Rambut rontok sangat banyak

Saya sempat mengeluh ke suami kenapa rambut rontok sejak setahun terakhir. Sama suami suruh periksa. Lha mosok cuma rontok harus ke dokter. Kan saya males. Sambat ke temen, katanya nggak papa, karena sudah bertambah umur biasanya rambut rontok. Tapi, menurut saya rontoknya sangat banyak, setiap  menyisir bisa puluhan helai rontok, belum lagi kalau keramas. Untungnya rambut saya tebel jadi tidak menipis.

2. Tangan tremor

Salah satu ciri penderita kelainan kelenjar tiroid adalah tangan tremor. Saya jadi ngeh kenapa setiap ambil footage memakai HP atau kamera hasilnya selalu goyang. Saya coba melihat telapak tangan saya, sepertinya tidak bergetar. Kemudian saya meletakkan selembar kertas dan menaruhnya di punggung telapak tangan. Woi, kertasnya bergetar. Terlihat jelas setelah ada kertas diatasnya. Fix, saya memang tremor. :(

3. Tubuh mudah lelah

Nah, poin ini yang sangat saya rasakan. Setelah pulang dari kantor, lanjut ngurusin krucil n rumah, jam delapan sudah ngelonin bocah. Bruk. Sampai pagi nggak sadar. Jika ada deadline nulis, terpaksa saya mesti mampir di coffee shop sepulang kerja. Karena kalau sudah malam, saya nggak mampu untuk bangun lagi apalagi nulis.

Padahal beberapa tahun yang lalu, meski punya bayi, tengah malam saya masih kuat bangun buat nulis. Aktif ikut berbagai lomba ngeblog dan ngerjain sponsored post. Nulis sampai pagi dan paginya bablas ngantor. Saya kuat seperti itu. Sekarang? Lemes.

4. Sering sakit tenggorokan

Keluhan ini saya rasakan sejak setahun terakhir. Saya kira cuma radang biasa tapi kok sering. Tenggorokan serak. Makan gorengan satu biji saja berakibat batuk kering. Padahal saya ngga biasa minum es dan sebelumnya nggak pernah merasakan radang tenggorokan. Ternyata semua keluhan ini bermuara dari kelainan dari kelenjar endokrin saya yaitu kelenjar tiroid.

Rutin wira-wiri ke RS

Sebuah rumah sakit di kota Yogyakarta
Sebuah rumah sakit di kota Yogyakarta


Rumah sakit. Sebuah tempat yang mungkin dihindari banyak orang. Kecuali para dokter dan perawat tentunya. Hehehe. Aroma rumah sakit itu entah mengapa membuat orang yang bahkan sehat pun akan berasa sakit? Bener nggak. Tapi, demi kesembuhan memang rumah sakit adalah tempat bagi kita untuk memperoleh kesembuhan.

Okey lanjut ke proses pemeriksaan tiroid saya ya. 

Dokter di Panti Rini menyarankan saya untuk tes darah, melihat hasil Tsh dan T4. TSH berfungsi memicu produksi hormon tiroid, jumlah TSH inilah yang menjadi salah satu penanda tinggi atau rendahnya hormon tiroid dalam tubuh.

Dari Panti Rini saya dirujuk ke RS Wirosaban di kota Yogyakarta. Kebetulan dokter penyakit dalam yang menangani saya juga praktik di RS Wirosaban. DI RS Wirosaban cek darah untuk mengetahui kadar tiroid bisa dicover BPJS sedang di Panti Rini cek kadar tiroid tidak dicover BPJS. Jadilah saya wira-wiri ke RS Wirosaban sekitar 2,5 bulan.  

Kontrol ke dokter penyakit dalam, cek darah ke laborat dan lima hari kemudian ambil hasilnya, kemudian dari hasil lab diberi obat untuk menaikkan kadar TSH. Kadar TSH yang normal harus lebih besar dari 0,05, satuannya saya nggak ngerti. 

Biasanya jika pemicu produksi hormon tiroid rendah seperti saya, maka kadar T4 harusnya tinggi atau normal. Tetapi punya saya juga rendah. Inilah yang disebut Hipertiroid Klinis.



Saya diberi obat untuk satu bulan ke depan, ada dua jenis pil, yaitu propanolol dan Propiylthiouracil dengan dosis paling rendah. Sehari satu kapsul, diminum rutin selama satu bulan. Dan bulan depannya kembali mengulang hal yang saya. 

Di kontrol yang ketiga saya berganti dokter, karena dokter biasanya berhalangan. Dia kembali membaca rekam medis dan menyarankan ke dokter ahli Endokrin di RS Sardjito. Karena tiroid memang sangat berhubungan dengan kelenjar endokrin. 

Btw, perjalanan periksa saya itu dari rumah di Sleman kemudian ke kantor dulu mengerjakan pekerjaan yg harus diselesaikan, agak siang ke RS Wirosaban dan jika harus ke Sardjito maka perjalanan makin jauh, karena makin ke utara.  


Tentang Kelenjar Endokrin

Sistem endokrin merupakan jaringan kelenjar dan organ yang memiliki peran penting dalam mengatur banyak fungsi tubuh seperti pertumbuhan sel, metabolisme, tumbuh kembang tubuh, dan proses reproduksi. Dalam sistem endokrin terdapat beberapa kelenjar seperti kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar adrenal, dan kelenjar reproduksi yang memiliki fungsinya masing-masing.


Mulai nyambung ya kenapa harus ke Dokter Spesialis Endokrin, karena kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar dalan sistem endokrin. Dan, kalian jangan sampai salah dokter. Dari RS sebelumnya dirujuk ke RS Sarjito dengan pengantar atau rujukan ke Spesialis Endokrin. Next day, saya ke Sardjito, mendaftar ke Spesialis Endokrin dan setelah antri ternyata salah donk. Karena spesialis Endokrin ada dua macam, yang satu khusus kandungan dan kesuburan, satunya yang metabolik dan diabetes.  Saya harus kembali ke RS sebelumnya untuk merivisi rujukan.  

Nananinanananinaaaaaaa...

Wis pokoke jangan sampai sakit lah, ribet. Tapi ya memang begitu prosedurnya. Tidak BOLEH Mengeluh. :)

Btw, prosedur pendaftaran di RS Sardjito lumayan nggak ribet, kita cukup sekali membawa surat rujukan serta fotokopi BPJS. Jika sudah mendaftar dan mendapatkan kartu pasien maka kontrol selanjutnya cukup memakai kartu pasien serta surat kontrol dari dokter Berbeda dengan di RS sebelumnya yg setiap mendaftar harus membawa fotokopian rujukan awal, bpjs serta fotokopi ktp (kalau tidak salah) Mubazirkan ya, itu fotokopian kertas. Jika disana sudah ada arsipnya.

Selanjutnya saya bisa dibilang bersahabat dengan RS Sardjito, yang guede. Dulu setiap kesini membesuk kerabat sudah pusing mencari ruangan atau lupa parkir mobil disebelah mana kemudian jadi hapal beberapa ruangan, lab, ruang radiologi, dll.

Saya periksa di dokter spesialis endokrin cuma dua kali, untuk dicek cairan yang ada di benjolan, cuma disuntik, diambil cairan dan dibawa ke lab patologi. Disebut juga biopsi jarum halus. Proses pengambilan tidak sakit. Cuma kayak disuntik biasa gitu. Pasien tidur terlentang dengan leher diganjal, kemudian dokter melakukan biopsi jarum halus. Btw, dokternya ganteng. Masih muda tapi udah dokter spesialis. 

Syayalalala. Dubidubidu.


Ohya, di ruang tunggu dokter spesialis endokrin saya bertemu dengan banyak pasien. Kebanyakan mereka adalah pasien diabet yang sudah akut. Ada yang penglihatannya hampir hilang, luka di bagian tubuhnya dan komplikasi.

Sudah lupakan pak dokter ganteng, karena dia tidak mau berlama-lama jadi dokter saya. Setelah hasil dari lab patologi anatomi keluar saya dirujuk ke gedung merah alias Instalasi Kanker. 

"Pasien gondok yang harus dibedah memang diarahkan ke Instalasi Kanker Bu, gedungnya merah ada di belakang" sambil menunjuk ke gedung yang terlihat dari jendela lantai 6 gedung pusat Sardjito. Ehm, okey saya harus turun dan mengitari RS Sardjito dulu untuk mendaftar di Instalasi Tulip. Yang namanya kok bikin keder karena ada KANKER. Ngilu cuy.

instalasi kanker tulip RS Sardjito

FYI, diagnosa penyakit saya adalah Struma Nodusa. (Orang kebanyakan menyebut gondok) Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusaStruma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Karena pembesaran kelenjarku disertai tanda hipertiroid makan disebut Struma Nodusa Toksik.

Ehm, lelah ya wira-wiri periksa. Tapi demi kesehatan, itu semua harus diupayakan. 

Seperti apa perjalanan saya jadi pasien di Instalasi Kanker Tulip? Penuh drama dan gagal operasi?

Simak dipostingan selanjutnya ya temans, saya sudah lelah mengetik. :)) 

Jangan lupa selalu jaga kesehatan, makan sehat, berpikir yang sehat  dan olahraga. 






Demikianlah Artikel Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid

Sekianlah artikel Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid dengan alamat link https://beritawawancara.blogspot.com/2020/05/ini-cerita-saya-penderita-hipertiroid.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ini Cerita Saya, Penderita Hipertiroid"

Posting Komentar