Judul : Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika
link : Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika
Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika
🛩 ⦻ Efektif kuras rudal mahal
Drone kamikaze Iran (Ist)
Drone kamikaze Shahed-136 Iran kembali menjadi sorotan, setelah digunakan dalam serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Teluk Arab akhir pekan lalu.
Setelah terbukti efektif dan relatif murah di medan perang Ukraina, drone tersebut kini dilepaskan ke sejumlah negara Teluk, menimbulkan kerusakan signifikan di tengah eskalasi konflik yang oleh AS dinamai Operasi Epic Fury.
Video terverifikasi New York Times pada Sabtu (28/2/2026) menunjukkan Shahed-136 menghantam bangunan di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Rekaman dari Manama, ibu kota Bahrain, memperlihatkan drone berbentuk segitiga itu menabrak sisi gedung apartemen bertingkat tinggi hingga memicu kebakaran, membuat puing-puing berhamburan.
Suara dengungan khas mesin drone terdengar jelas sebelum benturan terjadi.
Drone murah kuras rudal mahal
Spesifikasi drone Shahed-136 buatan Iran yang dipaparkan Badan Distribusi Informasi Visual Pertahanan (DVIDS) Amerika Serikat, dari puing-puing yang diambil Angkatan Laut AS pada 16 November 2022.(DVIDS via AFP)
New York Times melaporkan, Shahed-136 merupakan bagian dari keluarga drone Shahed yang dalam bahasa Persia berarti “saksi”.
Drone ini dirancang sebagai kendaraan udara tak berawak berbiaya rendah, yang dapat berfungsi seperti rudal berpemandu karena terbang menuju target yang telah ditentukan.
Pengembangannya dilakukan oleh perusahaan yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), cabang militer ideologis yang melindungi sistem pemerintahan Iran.
Iran memproduksi Shahed-136 setidaknya sejak 2021 dan pernah menggunakannya di Irak sebelum konflik terbaru.
Drone serang satu arah ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan rudal tradisional, terutama dari sisi biaya.
Satu unit Shahed-136 dapat diproduksi dengan biaya "hanya" 35.000 dollar AS (Rp 590 juta) dan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer.
Sebaliknya, biaya untuk mencegat satu drone oleh militer Amerika bisa mencapai antara 500.000 dollar AS (Rp 8,4 miliar) hingga 4 juta dollar AS (Rp 67,4 miliar).
Seth Frantzman, ahli perang drone, menilai efektivitas Shahed tidak terletak pada kecanggihannya, melainkan pada kombinasi harga murah dan kemampuan diproduksi massal.
“Mereka memberi Iran sistem senjata murah sekelas angkatan udara,” kata Frantzman, penulis buku Drone Wars: Pioneers, Killing Machines, Artificial Intelligence, and the Battle for the Future (2021), dilansir dari Daily Mail, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, meskipun tidak seefektif senjata lain dalam hal presisi atau daya hancur, drone ini kadang mampu menghindari sistem pertahanan udara mahal dan menyebarkan kekacauan.
Contoh penggunaan drone Shahed
Drone Shahed Iran menghantam sistem radar Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain. (ist)
Dalam eskalasi terbaru, Iran meluncurkan serangan ke Israel serta pangkalan AS dan sekutunya di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi.
Dengan menyebarkan serangan di lebih dari lima medan operasi sekaligus dan mempertahankan lebih dari 2.500 drone per hari, Teheran memaksa lawan-lawannya membagi pertahanan.
Setiap pencegat yang digunakan untuk melindungi satu pangkalan tidak dapat dialihkan ke lokasi lain karena jumlahnya terbatas.
Kondisi tersebut memaksa perencana militer menyebarkan sumber daya di ribuan kilometer wilayah, sehingga perlindungan di tiap titik menjadi lebih lemah.
Data intelijen sumber terbuka dan analisis pertahanan memperkirakan, total armada Shahed di semua varian mencapai antara 80.000-100.000 unit.
Produksi yang masih berjalan sekitar 500 unit per bulan memungkinkan Iran, jika mengerahkan kapasitas penuh, meluncurkan gelombang lebih dari 2.500 drone per hari selama sebulan.
Stok rudal pencegat menipis
Perisai udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) saat ditempatkan oleh militer Amerika Serikat di Israel pada 4 Maret 2019. Senjata ini kembali disiapkan dalam ancang-ancang serangan AS ke Iran, Januari 2026. (DVIDS/CORY PAYNE via AFP)
Sejumlah pejabat dan analis Barat memperingatkan, persediaan pencegat akan kesulitan mengimbangi laju tersebut.
Tekanan terhadap stok amunisi sudah terlihat sejak pertempuran pada Juni 2025 yang menguras persediaan secara signifikan.
Selama konflik musim panas lalu, Amerika Serikat menembakkan sekitar 150 pencegat THAAD dalam 12 hari untuk mempertahankan Israel, setara sekitar seperempat dari total persediaannya.
Setiap pencegat THAAD bernilai sekitar 15 juta dollar AS (Rp 253 miliar) dan memerlukan waktu tiga hingga delapan tahun untuk diproduksi ulang.
Saat ini sistem yang sama digunakan di berbagai negara sekaligus karena intensitas serangan Iran terus berlanjut.
Keterbatasan tidak hanya terjadi pada pencegat, tetapi juga pada rudal jelajah Tomahawk (TLAM) yang diluncurkan dari laut, serta senjata yang diluncurkan dari pesawat.
Situasi ini terjadi setelah AS-Israel melancarkan serangan terhadap kepemimpinan serta situs militer Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, penguasa Iran selama 37 tahun.
Iran kemudian membalas dengan rudal dan drone ke berbagai negara Timur Tengah yang menampung pasukan AS.
Ali Larijani, pejabat senior Iran, menulis di media sosial pada Minggu bahwa Iran tidak menyerang negara-negara Arab. Ia menyatakan sasaran Iran adalah pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS.
Rusia juga pakai, AS tiru model Shahed
Drone kamikaze tiruan amerika gagal dan jatuh di Iraq (X)
Di luar kawasan Teluk, Shahed-136 sebelumnya digunakan Rusia untuk menyerang infrastruktur sipil di Ukraina.
Rusia memproduksi versi dalam negeri yang dikenal dengan nama Geran di pabrik terpencil timur negara itu, lalu memodifikasinya selama invasi ke Ukraina.
Akhir tahun lalu, AS mengumumkan pengerahan drone serang satu arah bernama LUCAS, hasil rekayasa balik Shahed oleh perusahaan Arizona, SpectreWorks.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, drone tersebut dikerahkan untuk kali pertama dalam kampanye melawan Iran, tetapi klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen.
Presiden AS Donald Trump baru saja mengatakan bahwa perang dapat berlanjut hingga empat minggu ke depan.
Jika konflik berkepanjangan, persediaan pencegat dan amunisi mahal AS berpotensi menjadi persoalan serius di tengah gelombang serangan drone murah Iran yang terus berlanjut.
Drone kamikaze Iran (Ist)Drone kamikaze Shahed-136 Iran kembali menjadi sorotan, setelah digunakan dalam serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Teluk Arab akhir pekan lalu.
Setelah terbukti efektif dan relatif murah di medan perang Ukraina, drone tersebut kini dilepaskan ke sejumlah negara Teluk, menimbulkan kerusakan signifikan di tengah eskalasi konflik yang oleh AS dinamai Operasi Epic Fury.
Video terverifikasi New York Times pada Sabtu (28/2/2026) menunjukkan Shahed-136 menghantam bangunan di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Rekaman dari Manama, ibu kota Bahrain, memperlihatkan drone berbentuk segitiga itu menabrak sisi gedung apartemen bertingkat tinggi hingga memicu kebakaran, membuat puing-puing berhamburan.
Suara dengungan khas mesin drone terdengar jelas sebelum benturan terjadi.
Drone murah kuras rudal mahal
Spesifikasi drone Shahed-136 buatan Iran yang dipaparkan Badan Distribusi Informasi Visual Pertahanan (DVIDS) Amerika Serikat, dari puing-puing yang diambil Angkatan Laut AS pada 16 November 2022.(DVIDS via AFP)New York Times melaporkan, Shahed-136 merupakan bagian dari keluarga drone Shahed yang dalam bahasa Persia berarti “saksi”.
Drone ini dirancang sebagai kendaraan udara tak berawak berbiaya rendah, yang dapat berfungsi seperti rudal berpemandu karena terbang menuju target yang telah ditentukan.
Pengembangannya dilakukan oleh perusahaan yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), cabang militer ideologis yang melindungi sistem pemerintahan Iran.
Iran memproduksi Shahed-136 setidaknya sejak 2021 dan pernah menggunakannya di Irak sebelum konflik terbaru.
Drone serang satu arah ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan rudal tradisional, terutama dari sisi biaya.
Satu unit Shahed-136 dapat diproduksi dengan biaya "hanya" 35.000 dollar AS (Rp 590 juta) dan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer.
Sebaliknya, biaya untuk mencegat satu drone oleh militer Amerika bisa mencapai antara 500.000 dollar AS (Rp 8,4 miliar) hingga 4 juta dollar AS (Rp 67,4 miliar).
Seth Frantzman, ahli perang drone, menilai efektivitas Shahed tidak terletak pada kecanggihannya, melainkan pada kombinasi harga murah dan kemampuan diproduksi massal.
“Mereka memberi Iran sistem senjata murah sekelas angkatan udara,” kata Frantzman, penulis buku Drone Wars: Pioneers, Killing Machines, Artificial Intelligence, and the Battle for the Future (2021), dilansir dari Daily Mail, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, meskipun tidak seefektif senjata lain dalam hal presisi atau daya hancur, drone ini kadang mampu menghindari sistem pertahanan udara mahal dan menyebarkan kekacauan.
Contoh penggunaan drone Shahed
Drone Shahed Iran menghantam sistem radar Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain. (ist)Dalam eskalasi terbaru, Iran meluncurkan serangan ke Israel serta pangkalan AS dan sekutunya di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi.
Dengan menyebarkan serangan di lebih dari lima medan operasi sekaligus dan mempertahankan lebih dari 2.500 drone per hari, Teheran memaksa lawan-lawannya membagi pertahanan.
Setiap pencegat yang digunakan untuk melindungi satu pangkalan tidak dapat dialihkan ke lokasi lain karena jumlahnya terbatas.
Kondisi tersebut memaksa perencana militer menyebarkan sumber daya di ribuan kilometer wilayah, sehingga perlindungan di tiap titik menjadi lebih lemah.
Data intelijen sumber terbuka dan analisis pertahanan memperkirakan, total armada Shahed di semua varian mencapai antara 80.000-100.000 unit.
Produksi yang masih berjalan sekitar 500 unit per bulan memungkinkan Iran, jika mengerahkan kapasitas penuh, meluncurkan gelombang lebih dari 2.500 drone per hari selama sebulan.
Stok rudal pencegat menipis
Perisai udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) saat ditempatkan oleh militer Amerika Serikat di Israel pada 4 Maret 2019. Senjata ini kembali disiapkan dalam ancang-ancang serangan AS ke Iran, Januari 2026. (DVIDS/CORY PAYNE via AFP)Sejumlah pejabat dan analis Barat memperingatkan, persediaan pencegat akan kesulitan mengimbangi laju tersebut.
Tekanan terhadap stok amunisi sudah terlihat sejak pertempuran pada Juni 2025 yang menguras persediaan secara signifikan.
Selama konflik musim panas lalu, Amerika Serikat menembakkan sekitar 150 pencegat THAAD dalam 12 hari untuk mempertahankan Israel, setara sekitar seperempat dari total persediaannya.
Setiap pencegat THAAD bernilai sekitar 15 juta dollar AS (Rp 253 miliar) dan memerlukan waktu tiga hingga delapan tahun untuk diproduksi ulang.
Saat ini sistem yang sama digunakan di berbagai negara sekaligus karena intensitas serangan Iran terus berlanjut.
Keterbatasan tidak hanya terjadi pada pencegat, tetapi juga pada rudal jelajah Tomahawk (TLAM) yang diluncurkan dari laut, serta senjata yang diluncurkan dari pesawat.
Situasi ini terjadi setelah AS-Israel melancarkan serangan terhadap kepemimpinan serta situs militer Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, penguasa Iran selama 37 tahun.
Iran kemudian membalas dengan rudal dan drone ke berbagai negara Timur Tengah yang menampung pasukan AS.
Ali Larijani, pejabat senior Iran, menulis di media sosial pada Minggu bahwa Iran tidak menyerang negara-negara Arab. Ia menyatakan sasaran Iran adalah pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS.
Rusia juga pakai, AS tiru model Shahed
Di luar kawasan Teluk, Shahed-136 sebelumnya digunakan Rusia untuk menyerang infrastruktur sipil di Ukraina.
Rusia memproduksi versi dalam negeri yang dikenal dengan nama Geran di pabrik terpencil timur negara itu, lalu memodifikasinya selama invasi ke Ukraina.
Akhir tahun lalu, AS mengumumkan pengerahan drone serang satu arah bernama LUCAS, hasil rekayasa balik Shahed oleh perusahaan Arizona, SpectreWorks.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, drone tersebut dikerahkan untuk kali pertama dalam kampanye melawan Iran, tetapi klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen.
Presiden AS Donald Trump baru saja mengatakan bahwa perang dapat berlanjut hingga empat minggu ke depan.
Jika konflik berkepanjangan, persediaan pencegat dan amunisi mahal AS berpotensi menjadi persoalan serius di tengah gelombang serangan drone murah Iran yang terus berlanjut.
Demikianlah Artikel Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika
Sekianlah artikel Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika dengan alamat link https://beritawawancara.blogspot.com/2026/03/drone-murah-iran-kuras-rudal-mahal.html
0 Response to "Drone Murah Iran Kuras Rudal Mahal Amerika"
Posting Komentar